Membeli Pengikut dan Kepemimpinan Diri

Published on January, 12th 2015
Written by Jack Alenzo

Tragedi yang menimpa pesawat Airasia QZ 8501 tentunya memprihatikan kita semua.  Proses evakuasi dilakaukan segera dengan melibatkan segenap sumber daya terbaik negeri ini dikerahkan termasuk bantuan dari negera tetangga.  Tragedi ini mengingatkan kita pada kejadian yang hamper sama pada musim semi tahun 1972, sebuah pesawat terbang melintasi pegunungan Andes mengangkut sejumlah awak dan 40 penumpang.    Sebagian besar penumpang adalah anggota tim rugby amatir dari Uruguay yang hendak bertanding di Cili.  Namun, pesawat tersebut tidak pernah tiba ditujuan.  Pesawat menabrak pegunungan yang diselimuti salju, hancur menjadi beberapa bagian.  Bagian utama dari badan pesawat meluncur seperti kereta luncur ke lembah yang amat curam, dan terkubur di salju setinggi pinggang manusia.  Meskipun ada penumpang yang tewas seketika, atau dalam beberapa jam kemudian, kondisi 28 orang yang selamat tidak lebih baik.  Sisa badan peswat memberikan sedikit perlindungan dari cuaca dingin yang ekstrim, persediaan makanan yang kurang, dan sejumlah penumpang yang mengalami luka serius akibat kecelakaan tersebut.   Tak lama berseang, beberapa orang dari mereka mulai gila dan sejumlah lainya meninggal dunia akibat luka yang diderita serta buruknya kondisi cuaca.  Orang-orang yang mengamai luka ringan mulai memikirkan langkah yang dapat dilakukan untuk memperbesar peluang mereka bertahan hidup dan menyelamatkan diri.

 

Beberapa orang mulai bekerja untuk membuat rongsokan badan peswat lebih tahan cuaca; yang mencari cara mendapatkan air, dan orang-oarng yang mempnyai kemampuan medis merawat korban lain yang terluka.  Meskipun kondisi psikologis mereka terguncang, pada dasarnya mereka memiliki keyakinan bahwa mereka akan ditemukan.  Namun, keyakiinan tersebut mulai luntr karena nyatanya tim pencari dan penyelamat gagal menemukam mereka sejauh ini.  Beberapa minggu pun berlalu dan tidak ada tanda-tanda regu penyelamat akan dating, para penumpang yang tersisa memutuskan mendaki gunung untuk menemukan jalan keluar menyelamatkan diri.  Penumpang yang stamina fisiknya paling fit dipilih untuk melakukan ekspedisi tersebut karena udara gunung yang tipis serta tebalnya salju akan membuat pendakian menjadi semakin sulit.  Hasil dari ekspedisi tersebut justru membuat mereka frustasi dan menurunkan harapan: anggota eskpedisi menyatakan mereka terjebak di tenggah-tengga pegunungan Andes, dan berjalan keluar untuk menemukan bantuan adalah hal yang mustahil.   Ketika mereka mengira tidak hal yang lebih buruk yang dapat terjadi, tiba-tiba salju longsor dan menimpa rongsokan pesawat dan menewaskan beberapa orang lagi dari mereka.

Sisa korban yang masih hidup mulai menyimpulkan bahwa mereka tidak akan mungkin diselamatkan, dan satu-satunya harapan mereka adalah bila seseorang pergi meninggalkan tempat perlindungan mereka dan mencari bantuan.  Tiga penumpang yang paling fit dipilih untuk eskpedisi terakhir dan penumpang lain didorong untuk melakukan segala upaya agar ekspedisi ini berjalan sukses.  Ketiga anggota ekspedi terakhir ini diberi jatah makan yang lebih bnayak dan dibebaskan dari aktivitas rutin untuuk bertahan hidup; sisa penumpang lainya berusaha keras untuk menyediakan dan mengamankan segaa keperluan untuk perjalanan.   Dua bulan setelah kecelakaan pesawat yang mereka tumpangi akhirnya mereka melakuka upaya terakhir mereka untuk mencari bantuan.   Setelah mendaki 10 hari melewati sejumlah medan paling berbahaya di dunia, para anggota ekspedisi berpapasan dengan sekelompok pengembala ternak.  Salah seorang anggota ekspedisi berkata, “saya berasal dari pesawat yang jatuh di gunung.  Saya orang Uruguay.”  Akhirnyya, 14 orang korban yang masih hidup lainya dapatberhasil diselamatkan.

Ketika kisah lengkap mengenai korban yang selamat ini tersebar uas, munculah sejumlah kotroversi.  Apalagi saat diketahui bahwa para korban yang selamat tersebut dapat bertahan hidup dengan cara yang sangat esktrim, yaitu memakan daging rekan-rekan mereka yang sudah tewas.  Meskipun demikian, kisah mereka merupakan salah satu drama pertahanan hidup yang paling menyentuh sepanjang masa.

Mungkin kisah para korban yang selamat dari kecelakaan peswat di pegubungan Andes tersebut sangat jauh dari kehidupan kita seharihari, sehingga kelihatan tidak relevan dengan makna kepemimpinan secara praktis dan individual.   Namun, coba anda perhatikan beberapa persoalan mendasar yang dihadapi oleh para korban selamat tersebut; adanya ketegangan antara tujuan individu dan tujuan kelompok, berurusan dengan pembagian sumber daya dan sumber hidup yang sangat terbatas, belum lagi kepribadian yang berbeda-beda apalagi di tenggah kondisi mencekam tersebut, di tenggah upaya-upaya akhir untuk mempertahankan sisa harapan yang amsih ada sambil menghadapi kemalangan yang kembali menimpa.  Persoalan-persoalan ini tidak jauh berbeda dengan yang kita hadapai dalam kehidupan kelompok atau organisasi kita bergabung.  Kita juga dapat melihat dari peristiwa di Andes tersebut fenomena kemunculan pemimpin informal dalam kelompok.  Sebelum pesawat lepas landas, seorang pemuda bernama Parrado dikenal sebagai pemuda yang cangggung dan pemalu, dapat dibiang sebagai ‘warga kelas dua’ baik diteam rugby tersebut maupun di pergaulan sosialnya.  Meskipun demikian, pemuda yang tidak mungkin akan jadi pahlawan tersebut kemudian justru menjadi sosok yang paling dicinta dan dihormati di antara para korban yang selamat, karena keberanianya, optimismenya, rasa keadilan dan dukungan emosional yang ia berikan. Kemampuan persuasif dalam proses pengembailan keputusan di dalam kelompok juga menjadi bagain penting dalam hal kepemimpinan dianatara korban Andes yang selamat.  Dalam diskusi pelik sebelum memutuskan untuk bertahan hidup dengan memakan daging dari teman-teman mereka yang meningga, saah seorang pemain rugby menyatakan pendapatnya, “saya tauh, jika mayat saya dapat membantu bertahan hidup, maka saya inggin kamu menggunakanya, bahakn jika saya mati dan kamu tidak memakan saya, maka saya akan dating dari manapun untuk mencarimu dan menendang bokongmu”.  Sempurnah sudah premsi bahwa pemimpin sejati tidak perlu mencari apalagi membayar orang untuk menjadi pengikut, tetapi jika mereka melihat anda dengan penuh keyakinan berani memimin diri anda sendiri maka mereka akan mengikuti dan membatu anda dengan tulus serta percaya dengan kepemimpinan anda.