Memahami Bisnis

Published on August, 12th 2014
Written by Jack Alenzo

Salam semangat senin pagi,

Dalam salah satu sesi sharing tentang "membumikan" KPI yang saya pandu beberapa hari yang lalu, tantangan bagi praktisi HR adalah bagaimana menjadi partner bisnis handal sehingga dapat menerjemahkan kebutuhan-kebutuhan strategik organiaasi kedalam fungsi, sistim dan paktek-praktek hr yang mumpuni.

Kenyataaan yang saya temui dalam sesi sharing tersebut, banyak sentilan dan bahkan pengakuan jujur dari para peserta bahwa mereka jarang diajak berdiskusi dan diajak berbicara oleh top manajemen tentang bisnis, karena orang hr dianggap tidak mengerti bahasa bisnis.
Penyebabnya sangat beragam, mulai dari CEO yang kurang memahami atau menganggap penting aspek human capital bagi kesuksesan organisasi hingga kesalahan orang-orang HR sendiri yang tidak pernah berusaha menjadi atau menjalankan peranya layaknya pebisnis dalam menjalankan fungsi dan peranya di perusahaan. Dalam hal penyusunan KPI sendiri sebenarnya upaya melakukan penururan target, penyelesaran dan menentuan dan memilih target, melakukan penyelarasan dan penentuan besaran target jelas memerlukan pemahaman bisnis yang baik.

Mengerti tentang bisnis perusahaan sebenarnya mutlak diperlukan tidak hanya untuk penyusunan KPI atau "performance management system", akan tetapi juga untuk semua kegiatan dan fungsi HR lainya seperti pengupahan, kompetensi, training and development dsb. Pertanyaanya adalah bagaimana ??

Memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut , saya jadi inggat nasehat bos saya dulu ketika masih bekerja di sebuah perusahaan. Menurut bos saya tersebut, " kalo mengerti bisnis ada bebarapa hal yang kita harus tauh secara persis dalam organisasi (termasuk juga di organisasi pemerintahan malah), yaitu melihat dari mana uang datang dan kemana uang keluar".

Aliran Cash (aliran uang masuk dan keluar - mulai dari mana uang datang, lalu dirubah dengan membeli raw material, modal, mesin dsb, yang kemudian rubuah kedalah proses kerja yang ada samoai menjadi barang jadi, kemudian dijual sampai dapat profit) Ini harus dimengerti baik, karena tanpa pemahaman dari pintu mana uang datang sama juga membangun organiasi utk gagal, tak kecuali di pemerintahan. Ketika uang keluar lebih besar dari uang masuk maka organisasi akan melambat bahkan mati, cepat atau lambat. Banyak perusahaan-perusahan yang sudah ternama bahkan, yang kemudian bangkrut karena aliran uang terhambat, apalagi sampai macet.

Menurut Ram Charan, untuk dapat mengerti tentang bisnis ada 5 hal yang harus diperhatikan:


Cash generation : dari mana uang datang dan bagaimana ditingkatkan nilainya. Uang datang datang adalah wujud kepercayaan orang luar organisasi terhadap produk atau service yang diberikan oleh perusahaan. Baik dalam organisasi bisnis, juga di pemerintahaan , uang datang adalah asal muasal kegiatan dilakukan. Pertama uang datang dari pemegang saham kita, dia percaya uang di investasikan utuk mendapatkan margin lebih besar daripada jika uang tersebut hanya ditaruh di bank. Sehingga apa yang menjadi perhatian dan konsen dari pemegang saham harus juga menjadi perhatian kita sebagai praktisi HR. Selanjutnya uang yang masuk, dibelanjakan kedalam berbagai barang modal dan raw material. Ketika kita membeli raw material seharga Rp.100 juta, bisa saja harga raw materiak tersebut sebenarnya hanya adalah Rp. 80 juta, karena ada margin supplier disana. Raw material yg kita beli tersebut kemudian kita oleh menjadi barang jadi dan harus laku dijual katakanya Rp.150 juta. Sehingga cash generation harus kita pastikan dengan efektif, cepat dan efisien dengan 5 tepat: material yg tepat, metoda yang tepat, proses yang tepat, alat yang tepat dan orang tepat.
Margin (besaran keutungan : revenue - cost dgn meminimalisir asset). Dalam pemerintashan pun hal ini juga menjadi penting. Pajak dan pendapatan negara yg dipunggut dan diperoleh, lalu dikurangi dengan biaya penyelanggaran negara teramasuk belanja pegawai, yang kemudian dipergunakan untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat, dan efektifitas kegiata ini akan menentukan seberapa baik mereka melakuka pengelolaan. Jangan besar pasak dari tiang.
Velocity (kecepatanya, termasuk tdk boleh salah beli, salah buat, rejeck, rework dsb yang hanya membuat uang kas yg dibelikan material menjadi macet dan berubah menjadi asset nyangsang. Proses harus lancar dan cepat. Initinya produktivity
Growth : dari mana pertumbuhan usaha akan dirahi : repeat order saja (existig customer, new market atau new segement, atau new busnis dsb. Inggat perusahaan harus bertumbuh krn beban biaya terus naik. Mulai kenaikan umk, bbm, listrik, inflasi dsb
Customer : siapa pelanggan atau calon pelangan kita. memahami pelangan adalah kunci dari bisnis. Apa value proposition yg mereka harapkan, mengapa mereka membeli atau tidak membeli produk tsb dari kita, dts.


Ke lima hal tersebut lalu diformulasikan kedalam 3 hal yang harus kita ketahui:

Apa / bagaimana "money making model" di organisasi / perusahaan kita
Apa kontribusi yang tim kita bisa berikan ke dalam "money making model" tersebut
dan, apak semua anggota organisasi sudah mengetahui dan memahami jawaban dari kedua pertanyaan diatas.


Tentu lebih lanjut untuk memhami bisnis yang kita semua orang hr harus terjun langsung dan kemudian menerjemahakan kebutuhan bisnis tsb diatas kedalam fungsi dan praktek hr yang sesuai dengan kondisi organiasi. Siapa yang harus direkrut, ditugaskan, dipromosi, dikembangkan, dibina, samoai yg harus dikeluarkan.

Bisnis saat ini telah berkembang ke dalam pengertian yang lebih luas dengan kondisi kopeteisi yang demimian ketat, tentu menunut para praktisi yang semakin tajam dan dalam memhaminya, namun prinsip-prinsip diatas relevan dalam berbagai keadaan.