Efektivitas dan Kepercayaan

Published on December, 1st 2014
Written by Jack Alenzo

Kepercayaan sangat terkait dengan efektivitas.  Dalam hidup ini banyak hal-hal baik yang sangat penting maupun yang kelihatan remeh temeh kita lakukan hanya karena kita percaya saja.  Dirumah, disekolah, di kantor, dalam pergaulan, sampai dengan kegiatan-kegiatan ibadah kita lakukan dengan percaya saja.  Di jalan misalnya, ketika kita sedang menuju ke kantor tiba-tiba ada lampu lalu lintas menunjukkan warna merah menyala kita harus menghentikan laju kendaraan kita seberapun terburu-burunya kita.  Di peasawat udara yang kita tumpangi, kita kan percaya saja kepada pesawat bahwa dirawat dengan baik, percaya saja kepada sang pilot yang akan membawa kita ke bandar udara ke kota tujuan kita dan bukan ke kota yang lain, percaya saja bahwa sang pilot kompeten menerbangkan pesawat, dan berbagai hal yang kita dasarkan hanya dengan percaya saja.   Coba, pikirkan betapa tidak efektipnya kita ketika misalnya kita ke kantor naik mobil dan karena kita hanya melakukan dan menggunakan sesuatu berdasarkan pengertian dan ilmu yang kita benar-benar ketahui maka seluruh sistim dalam mobil tersebut harus kita sendiri uji dulu, sistim permesinan, sistim kemudi, sistim rem dan sebagainya.  Jadi jika kita berprinsip hanya melakukan sesuatu hanya berdasrakan jika sesuatu tersebut kita ketahui maka seharusnya ke kantor dengan berjalan kaki, itupun bagaimana mekanisme tubuh kita saat berjalan kita bisa ketahui sepenuhnya kita bisa ketahui masih menjadi suatu pertanyaan juga.  Sungguh tidak efektipnya hidup kita jika kita berprinsip seperti itu.

Kita percaya saja kepada lampu lalu lintas bahwa ketika mendapat kesempatan berjalan saat lampu hijau disisi berlawan arah lampu menyala berwarna merah dan mereka haru berhenti.  Kita percaya saja kepada sistim canggih yang ada dalam pesawat terbang, percaya kepada pilot baik kompetensi maupun kemana arah yang ditujunya. Percaya membuat banyak hal dilakukan secara efektip dan efisien.

Tidak ada sifat atau karakteristik yang lebih penting daripada kepercayaan.

Persoalanya adalah terlalu sering ditemui, dalam sebuah organiasi yang terdiri dari orang-orang yang hebat, sduah direkrut dengan cara dan teknis muthair, namun dalam perkembanganya justru kepercayaan antar bagian satu dengan yang lain, antara orang yang satu dengan yang lain tingkat kepercayaan justru terus menurun.  Sama dengan ilusrasi lampu lalu lintas diatas, dalam organisasi yang kepercayaanya rendahpun akan mengalami hal yang sama.  Pekerjaan yang mudah menajdi bertaambah berat dan banyak jika kepercayaan mulai memudar.  Mereka bukanya sibuk untuk mencari insistaif baru untuk lebih unggul dari kompetitor tapi justru saling mengawasi, saling menunggu dan berprasangka.  Energi yang seharusnya dihabiskan untuk pekerjaan yang memberikan nilai tambah, maah dipakai untuk yang menghancurkan nilai tambah.

Kepercayaan dapat menjadi alat manajemen yang sangat berharga untuk membangun kerja sama yang kuat di internal organisasi. Hubungan kerja dalam kepercayaan yang tinggi dan konsisten, akan merangsang loyalitas dari hati masing-masing pihak, untuk berkontribusi dengan sepenuh hati buat kejayaan perusahaan. Jika setiap fungsi dan peran di dalam organisasi dapat benar-benar saling percaya, serta ikhlas berbagi kebaikan, dan ikhlas berkontribusi buat pelayanan yang terbaik, maka hubungan saling ketergantungan ini akan selalu mencapai kesepakatan buat kemajuan setiap stakeholder.