APA ITU KESENJANGAN EKSEKUSI ?

Published on December, 9th 2014
Written by Jack Alenzo

“Today the difference between a company and its competitor is the ability to execute.

“If your competitors are executing better than you are, they’re beating you in the here and now, and the financial markets won’t wait to see if your elaborate strategy plays out.

“So leaders who can’t execute don’t get free runs….

Execution is the great unaddressed issue in the business world today.”

—Larry Bossidy & Ram Charan,

Execution: The Discipline of Getting Things Done

 

 

Tanpa mengecilkan arti pentingnya menyusun rencana dan strategi yang dibuat, maka tugas terpenting seorang pemimpin, baik bisnis, pemerintahan dan pemimpin lainya adalah  memastikan bahwa target-target terpenting yang sudah di break down / chungking down di eksekusi dengan optimal dan sempurna, dengan mensinergikannya bersama sistim / proses dan manusia di organisasi dalam kerangka budaya eksekusi yang berdisiplin tinggi. 

 

Hal ini sangat penting untuk menjadi perhatian utama karena bukan hal yang mudah.  Kenyataan ini masih ditambah dengan keadaan bahwa banyak pemimpin masih merasa bahwa tugas utamanya adalah membuat strategi, dan soal eksekusinya adalah tugas dari bawahan. 

 

Dari sinilah dimulai adanya kesenjangan ekskusi tersebut.

 

Ketika perusahaan gagal mewujudkan janji-janji mereka, penjelasan yang paling umum diberikan adalah bahwa strategi direksi keliru.  Pemimpin menyalahkan anak buah, begitu seterusnya.  Akan tetapi, strategi sering bukanlah penyebab.  Strategi sering gagal karena tidak dieksekusi dengan baik.   Hal-hal yang seharusnya terjadi tidak terjadi.

 

 

Eksekusi sempurna akan terjadi ketika semua anggota organisasi atau team dapat menjawab dengan melakukan 5 hal sebagai berikut:

  1. Apakah mereka tahu apa tujuan dan target paling penting organisasi / team ?
  2. Apakah mereka percaya dan mempunyai komitmen dapat mencapai tujuan-tujuan tersebut
  3. Apakah mereka dapat menerjemahkan tujuan tersebut kedalam aktivitas pokok yang harus mereka lakukan ?
  4. Apakah mereka melakukan dan mengatasi hambatan yang dihadapi dalam mencapai tujuan tersebut ?
  5. Apakah mereka dapat berkerja bersama secara efektif dan sinergis untuk meningkatkan kapabilitas mencapai tujuan tersebut ?
  6. Apakah mereka saling melaporkan hasil kerja satu sama lain secara teratur ?

 

Kelima pertanyaan tersebut mewakili 6 aspek penting yang sangat mempengaruhi keberhasilan eksekusi.  Eksekusi yang efektif memiliki 6 prinsip utama. Yaitu: Clarity, Commitment, Translation of Strategic Goals to Daily Tasks, Enabling, Synergistic Teamwork, dan Accountability.

Inti sari dari Disiplin eksekusi adalah kenyataan bahwa Strategi sering gagal sebab tidak di eksekusi dengan baik, apakah karena organisasi yang tidak mampu menjadikannya itu terjadi atau para pemimpin yang keliru melihat atau menganalisa tantangan-tantangan yang dihadapi perusahaan atau bisa jadi keduanya.  Dan yang sering terjadi ketika strategi gagal adalah sikap saling menyalahkan, pemimpin menyalahkan anak buah, bawahan menyalahkan strategi dan seterusnya. Tidak banyak yang memahami bahwa proses perencanaan strategi menuntut perhatian sepenuhnya pada bagaimana strategi tersebut di eksekusi (dilaksanakan).  Suatu rencana strategi harus menjadi suatu rencana tindakan yang bisa diandalkan para pemimpin dalam mencapai tujuan perusahaan.

Suatu proses strategi dapat dikatakan baik, apabila dapat mengajarkan tim tentang eksekusi (pelaksanaan).  Tim akan dapat belajar bagaimana cara menganalisa, mengasumsi serta belajar dari kesalahan dan menciptakan semangat dan keselarasan dalam mencapai tujuan.  Menyingkirkan halangan, menentukan tindakan dan berkomitmen bersama mencapai target-target yang telah ditentukan. Satu persatu secara sempurna.

Mungkin suatu waktu anda pernah melakukan test intelegensia (IQ). Bagaimana hasilnya  ?    Bagaimana hasilnya ?  Tinggi, agak tinggi, cukup atau kurang.  Semua orang tua tentunya mengharapkan sang anak mendapat hasil yang tinggi. Karena, katanya kalau hasilnya tinggi, anak tersebut akan sukses dalam studinya dan masa depan cerah sudah menanti.

Sebaliknya jika hasilnya tidak baik, maka lupakan untuk mengambil pilihan studi yang membutuhkan kemampuan akademis yang tinggi.  Dan IQ ini konon tidak dapat banyak berubah-rubah.  Jadi kalau nilainya rendah maka tetap akan rendah.

Berbeda dengan IQ, kemampuan dalam melakukan eksekusi sangat mungkin untuk dilatih dan ditingkatkan. Yang diperlukan adalah Anda dan tim bersedia untuk disiplin dalam menentukan tujuan, bertindak, melaporkan hasil, memecahkan masalah dan saling mempertanggungjawabkan hasil kerja. Jadi apabila Anda dan organisasi Anda saat ini mempunyai kemampuan yang rendah dalam eksekusi sangat mungkin untuk ditingkatkan dengan budaya disiplin.