7 (Tujuh) Perbedaan Atasan yang BAIK dan Atasan yang MENYEBALKAN

Published on August, 12th 2014
Written by Sunawan

7 (Tujuh) Perbedaan Atasan yang BAIK dan Atasan yang MENYEBALKAN

(Freddy Liong, MBA, CBA. - Business Coach)

Disetiap perusahaan, pasti ada atasan yang baik dan memiliki gaya kepemimpinan yang dihormati oleh orang banyak. Tetapi sebaliknya juga, disetiap perusahaan banyak atasan yang menyebalkan dan tidak dihargai oleh anak buahnya. Kepemimpinannya selalu menjadi momok dan bahan gosipan anak buah. Sayangnya sebagai atasan, banyak pemimpin tidak sadar apakah gaya kepemimpinannya akan merugikan atau membawa dampak positif buat orang banyak. Artikel ini bertujuan untuk setiap atasan melakukan intropeksi diri apakah Anda termasuk atasan yang baik & dihormati para karyawan atau Anda adalah atasan yang menyebalkan dan tidak disukai oleh mayoritas orang. Atasan Yang MENYEBALKAN:

  1. Merasa dirinya lebih tinggi, oleh karena itu semua harus hormat padanya (kadang harus ”disembah-sembah” & disanjung, anak buah harus ”berbungkuk-bungkuk” melayani atasan jenis ini).
  2. Hanya jadi ”Tukang Suruh”. Pola pikir yang ia miliki : ”sebagai atasan, tugas saya hanya berikan tugas dan nagih hasilnya saja”. Tipe atasan seperti ini malas mengembangkan anak buahnya.
  3. Hanya mau diberikan masukan yang baik-baik saja, dan sulit terima kritikan atau masukan dari anak buahnya. Akibatnya, atasan seperti seringkali terlambat ”mengendus” permasalahan ditingkat bawah. Seringkali ia baru tahu atau menjadi sadar kalau semuanya sudah jadi ”bonyok”.
  4. Tidak mau dipersalahkan. Kalau muncul suatu permasalahan, ia selalu cari kambing hitam dengan menyalah-nyalahkan orang lain atau anak buahnya. Kalaupun jelas-jelas ia bikin kesalahan, tipe atasan buruk tidak pernah akan berkata ”Saya minta maaf”. Malah yang terjadi, dia akan menuding kekiri-kekanan.
  5. Cenderung satu arah. Jarang menghargai pendapat atau ide dari orang lain. Selalu merasa pendapatnya terbaik. Jarang mengadopsi ide-ide karyawan. Jarang memberikan kesempatan pada karyawan untuk sampaikan berbagai gagasan. Selalu mau menang sendiri didalam rapat atau perdebatan.
  6. Membatasi komunikasi dengan anak buah. Cenderung menjaga jarak dan berkomunikasi seperlunya saja (tetapi atasan ini bisa akrab dan berkomunikasi baik dengan tingkat yang lebih tinggi).
  7. ”Lempar batu sembunyi tangan” ketika anak buah anak mengalami kesulitan. Atasan jenis ini tidak mau repot-repot untuk turun kebawah sama-sama memikirkan solusi yang terbaik (ketika anak buah mentok dengan solusi). Dia tipe yang mau terima beres. Bila ada anak buah yang meminta pendapatnya, ia selalu menggunakan berbagai jurus untuk menghindar.

Atasan yang BAIK

  1. Selalu merendahkan hati untuk membantu anak buahnya menjadi maksimal didalam melaksanakan tugas-tugas. Selalu menggunakan kata “kami” , bukan “aku”. Selalu mau turun kebawah untuk menawarkan bantuan.
  2. Mendelegasikan tugas kepada anak buah secara benar, yaitu:
    1. Pastikan anak buah benar-benar 100% mengerti tentang tugasnya.
    2. Pastikan anak buah cukup terampil melakukan tugas-tugasnya.
    3. Bila anak buah kurang terampil, si atasan akan melatih hingga si anak buah terampil.
  3. Bersedia mendengar dari siapapun berbagai masukan yang positif maupun yang negative. Selalu mencari informasi (positif maupun negatif) untuk mengantisipasi agar masalah tidak menjadi besar. Menyimak dengan baik setiap masukan yang diterima ( tidak counter balik setiap input yang diberikan ) dan mencoba menelaah lebih dalam.
  4. Bersedia dikritik bila atasan salah. Bersedia meminta maaf bila melakukan kesalahan. Terbuka untuk dikoreksi demi kepentingan bersama dan perusahaan.
  5. Terbuka pada berbagai saran dan masukan. Setiap ide yang diajukan karyawan, akan disimak dengan baik dan dicerna. Setiap ide karyawan yang masuk akal dan menguntungkan perusahaan, akan diadopsi. Selalu mendorong karyawan sampaikan berbagai gagasan kreatif. Bersedia mengalah, apabila ide atasan kurang efektif didalammencapai target.
  6. Selalu mempertahankan komunikasi yang kondusif dengan anak buah. Selalu menjaga hubungan yang baik dengan seluruh anggota team. Tidak membeda-bedakan derajat didalam berkomunikasi dan pergaulan.
  7. Selalu siap untuk berikan advis yang diperlukan karyawan saat menghadapi kesulitan yang tidak bisa diatasi. Selalu memakai pendekatan ”Apa yang saya bisa bantu Anda untuk bisa selesaikan target tugas ini?”.

Selain tujuh hal diatas, sebaiknya seorang atasan juga harus mengetahui dengan baik, sebenarnya faktor apa saja yang membuat para karyawannya betah bekerja dan menjadi produktif. Berikut ini saya akan uraikan beberapa faktor yang memicu karyawan untuk termotivasi didalam bekerja, yaitu:

  1. Karyawan memiliki hubungan kerja yang harmonis dengan atasan langsung.
    Salah satu kebutuhan manusia yang paling utama adalah diterima didalam komunitas, tidak saja hanya diterima, tetapi memiliki hubungan ( relationship ) yang baik, Hubungan kerja yang harmonis artinya, antara atasan dan bawahan memiliki komunikasi dua arah yang lancar, atasan bawahan bisa kompak didalam menjalankan berbagai tugas, atasan bawahan bisa saling bahu membahu menghadapi kesulitan, atasan bawahan saling percaya dan dapat dipercaya.
  2. Karyawan memiliki pemahaman yang jelas tentang tugas.
    Karyawan yang faham dengan jelas tentang tuntutan tugas-tugasnya, akan bekerja lebih tenang dan tidak bingung. Tetapi sebaliknya karyawan yang sering mendapat tugas-tugas yang mendadak, tugas-tugas yang tidak ia kuasai, tugas-tugas yang tidak ada bimbingan dari atasan, akan membuat karyawan menjadi bingung, stress dan patah semangat.
  3. Karyawan mendapat kesempatan didengar ide atau saran-sarannya.
    Saat ide seseorang didengar oleh si atasan, karyawan akan merasa termotivasi untuk mencari ide yang lebih baik, dengan tujuan untuk menyenangkan hati si atasan. Apalagi bila ide tersebut diakui dan dipakai oleh perusahaan, maka si bawahan akan merasa “lebih berguna” ditempat kerjanya.
  4. Karyawan mendapatkan kesempatan untuk belajar hal-hal baru.
    Saat karyawan mendapat kesempatan pengembangan diri atau pelatihan, maka ia akan merasa karirnya bertambah maju. Pada umumnya karyawan akan menghargai atasan yang bisa membimbing mereka bekerja lebih baik ( bukan hanya sekedar menyuruh saja). Apa yang ditabur oleh si atasan ( yang melatih ), akan dibalas secara positif oleh bawahan dengan cara bekerja lebih baik dan giat. ( catatan : namun tidak semua karyawan yang diberi kesempatan pelatihan gunakan.

Sebetulnya dalam praktek dunia kerja, banyak orang yang ingin menjadi leader atau atasan yang baik untuk para karyawannya, namun karena kurangnya pengetahuan tentang kepemimpinan, akibatnya membentuk mereka menjadi atasan yang tidak disukai oleh para anak buahnya. Melalui pelatihan yang intensif, seorang leader akan diubah cara berpikir dan sudut pandangnya tentang bagaimana cara mereka berfungsi sebagai seorang leader yang efektif dan mampu menciptakan suasana kerja yang mampu memotivasi orang lain untuk bekerja dengan maksimal. Tinggal masalahnya adalah, apakah si Leader mau senantiasa belajar terus menerus atau tidak.